Bidadari Kecil Kepunyaan ALLAH

Menjadi seorang ayah merupakan hal menakjubkan yang membuat segala segi kehidupan saya berubah. Masih jelas dalam ingatan saya, tepat 40 minggu setelah menikah, mukjizat itu terlahir dengan diiringi jerit tangis yang cukup keras dan saat itu pula saya terpekik takjub melihatnya. Ketika melihatnya terlahir perasaan saya bercampur aduk. Senang, khawatir dan takut. Namun, ketika menggendongnya dalam pelukan saya, untuk pertama kalinya ketakutan tersebut seketika terlupakan. Saat itu saya merasa baru saja menerima suatu pemberian yang luar biasa dari Allah. Langsung dari tangan-Nya. Ketika itu pula tanpa terasa airmata mengalir seiring dengan bisikan lirih adzan di telinganya. Saya sudah menjadi seorang ayah! air mata semakin deras mengalir seiring dengan qamat yang semakin lirih. Saya sangat terharu dengan karunia Allah ini. Hari-hari selanjutnya merupakan hari yang sibuk bagi saya, sehingga saya pun mengajukan cuti selama satu minggu. Istri saya yang masih lemah setelah melahirkan belum dapat berbuat banyak selain menyusui. Sehingga segala kebutuhan sang bidadari kecil di luar menyusui sayalah yang memenuhinya. Mulai dari memandikan, mengganti pokok, memasang gurita, mengganti perban tali pusat, menyiapkan boks bayi, sampai membantu menidurkannya di malam hari. Alhamdulillah, saya dapat melakukan semuanya dengan baik tanpa takut atau canggung. Walaupun ketika malam hari seringkali saya berbaring dengan tubuh kelelahan, namun saya tetap tersenyum. Anehnya saya begitu bersemangat, sehingga walaupun kelelahan, saya merasa bahagia. Indah sekali rasanya menjadi seorang ayah.
Seiring dengan waktu, semakin hari saya merasakan adanya perbaikan dalam hidup saya. Semua bermula dari ketakutan saya. Takut tidak dapat merawat karunia ini dengan baik. Saya masih merasa bahwa saya adalah lelaki kemarin sore yang hanya bermodalkan tekad memberanikan diri melamar seorang wanita yang belum saya cintai, namun saya yakini kebaikannya. Perlahan namun pasti saya selalu memperbaiki diri. Dalam hati selalu bertanya, bagaimana saya dapat mendidiknya dengan baik jika saya tidak terlebih dahulu menjadi ayah yang baik?

Tanpa disangka, empat bulan setelah kelahiran tersebut saya dipindahtugaskan ke luar kota. Rasa sedih terbersit dalam hati membayangkan perpisahan dengan kedua bidadari saya. Namun saya meyakini bahwa Allah mempunyai rencana yang lebih baik. Di tempat yang baru, setiap kali memanjatkan doa untuk dua bidadari saya sehabis shalat, hati mendadak menjadi sangat rindu pada mereka. Tak terasa mata pun menjadi basah. Karena jauhnya jarak yang memisahkan, kami hanya dapat berjumpa sebulan sekali.

Namun demikian, lagi-lagi Allah berbaik hati pada saya. Setelah tujuh bulan terpisahkan kami dapat bersatu kembali. Istri dan puteri saya akhirnya dapat menyusul ke tempat tugas saya yang baru. Saat itu bidadari kecil saya sudah bisa berjalan. Alangkah senang hati ini. Dan saya semakin menyadari bahwa dalam tiap detik yang berlalu, dalam keadaan apa pun sangat banyak hal yang patut disyukuri. Kelahiran sang bidadari kecil menanamkan suatu keyakinan dalam hati saya bahwa Allah ternyata selalu mencintai saya. Setelah segala kesalahan dan kekhilafan saya di masa lalu, Allah masih berkenan mencintai saya. Memberikan tanggung jawab dan titipan pada saya.

Allah ingin saya berubah menjadi seorang laki-laki yang lebih baik. Dari seorang lelaki biasa menjadi seorang ayah!

3 thoughts on “Bidadari Kecil Kepunyaan ALLAH

  1. subhanallah, Allah memberi kalian nikmat yang blm aku miliki hingga saat ini .. semoga kebahagiaan selalu melimpah untuk keluarga kalian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s